Inilah 6 Desa Wisata Peninggalan Zaman Megalitikum

Pengembangan Konsep Desa Wisata Pujon Kidul yang Memikat

Desa wisata memiliki peranan penting dalam membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia di masa Pandemi sekarang ini. Banyak unsur menarik yang ditampilkan pada objek wisata ini, mulai dari unsur alam hingga unsur budaya yang memikat banyak wisatawan.

Situs peninggalan kuno memiliki daya tarik tersendiri karena tidak banyak dijumpai di tempat lain. Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah yang kemudian dijadikan tempat wisata dan salah satunya adalah peninggalan zaman Megalitikum berupa batu-batu besar.

Inilah 6 Desa Wisata Peninggalan Zaman Megalitikum

Berlibur di pantai, pegunungan, atau tempat rekreasi sudah biasa, tidak ada salahnya kamu mencoba sensasi berlibur yang lebih unik. Ada beberapa desa di Indonesia yang menyimpan sejumlah peninggalan zaman Megalitikum.

Desa wisata adalah salah satu destinasi menarik yang bisa kamu kunjungi karena bisa merasakan sensasi yang berbeda, apalagi jika berkunjung ke tempat yang memiliki banyak peninggalan dari zaman Megalitikum, seperti berikut.

  1. Desa Patemon (Situbondo)

Salah satu peninggalan zaman Megalitikum yang bisa kamu temukan di Sutobondo adalah Desa Patemon. Di sini, terdapat 26 peti jenazah yang teridentifikasi dari batu atau sarkofagus serta ada pula sisa pemburuan liar pada zaman tersebut yang berada di sekitar sarkofagus.

Bahkan, masih banyak penemuan menarik dan unik yang berhasil dilakukan oleh tim peneliti, mulai dari bekal kubur berupa manik-manik, fragmen alat pertukangan, dan fragmen gerabah dari zaman Megalitikum sehingga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

  1. Desa Bawomataluo (Nias)

Objek wisata sejarah lainnya adalah Desa Bawomataluo yang diberikan predikat sebagai budaya warisan dunia UNESCO. Desa ini memiliki peninggalan Megalitikum yang ikonik yang tidak bisa kamu temukan dari tempat lainnya.

Konsep desa wisata di Desa Bawomataluo ini disatukan dalam Situs Tetegewo yang menyimpan berbagai batu peninggalan Megalitikum, mulai dari berbentuk meja bundar, tugu, hingga persegi yang biasanya digunakan sebagai tempat wisata pada zaman itu.

  1. Kampung Siallagan (Samosir)

Wilayah yang sering disebut Huta Siallagan ini berada satu lokasi dengan Destinasi Super Prioritas Indonesia. Pasalnya, kawasan dengan luas sekitar 2.400 meter persegi ini sudah ada sejak ratusan tahun silam dan berada di sekeliling tembok batu setinggi 1,5 sampai 2 meter.

Batu yang mengelilingi kawasan tersebut berfungsi sebagai pelindung desa dari serangan suku lain dan serangan binatang liar. Selain itu, kamu bisa menemukan peninggalan berupa batu berbentuk meja dan kursi sebagai tempat menghukum para pelanggar adat.

  1. Kampung Praiyawang (Sumba)

Tempat wisata Megalitikum yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi adalah Kampung Praiyawang di Desa Rindi, Kecamatan Rindi, Sumba Timur. Bukan hanya peninggalan Megalitikum, destinasi ini juga memiliki suasana desa yang masih kental.

Adat istiadat perkampungan Sumba masih sangat terjaga jadi kamu akan mendapatkan pengalaman tidak terlupakan. Apalagi dengan adanya arsitektur rumah dan barisan kuburan tua untuk kalangan bangsawan dengan pahatan sebagai simbol filosofi dari pemilik makam.

  1. Desa Kamal (Jember)

Kampung wisata Jember ini menyimpan beragam jenis batu peninggalan Megalitikum yang tersebar di berbagai area, mulai dari halaman kantor desa, rumah warga hingga persawahan. Sejumlah peninggalan yang ada di desa ini adalah menhir, batu kenong dan tugu batu.

Terdapat satu atau dua tonjolan pada setiap bebatuan dan jumlah tonjolan ini memiliki makna tersendiri pada zaman Megalitikum. Satu tonjolan pada batu melambangkan lokasi penguburan, sementara 2 tonjolan menunjukkan alas bangunan rumah.

  1. Kampung Adat Bena Bajawa (Flores)

Kampung Adat Bena Bajawa yang ada di Flores tetap mempertahankan konsep tata wilayah khas Megalitikum sehingga suasananya asri dan eksotis. Bangunan rumah yang ada di kampung mengikuti kontur tanah sehingga terlihat seperti desa berundak.

Pasalnya, kampung adat ini sudah ada sejak 1.200 tahun yang lalu dengan peninggalan Megalitikum sebagai buktinya. Sejumlah peninggalan yang bisa dijumpai adalah batu besar berbentuk lonjong bernama Watu Lewa hingga batu berbentuk meja bernama Nabe.

Jika kamu penasaran dengan peninggalan Megalitikum tersebut, tidak ada salahnya untuk membuat agenda liburan ke salah satu desa wisata yang sudah dibahas. Selain liburan, kamu akan merasakan sensasi berada di kawasan dengan suasana kuno yang masih kental.